Latest News

Boudimi News

BOUDIMI NEWS

Thursday, 15 October 2015

DOGIYAI BERDARAH


Pertumpahan darah di tanah papua barat bukan merupalan sesuatu hal baru atau sesuatu hal baru yang mengherankan bagi masyarakat papua barat, tetapi itu adalah hal biasa bagi mereka, karena peristiwa seperti ini telah membentuk sebuah sirkulasi yang berputar terus sepanjang
waktu. Sirkulasi penderitaan akibat pertumpahan darah yang terbentuk ini dapat terbukti sejak papua barat dianeksasikan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1963 hingga kini. Pertumpahan darah yang dilakukan adalah dalam bentuk Operasi Militer dari tahun ke tahun, yang digencarkan TNI/POLRI di tanah Papua Barat, yang kemudian Papua Barat dikenal dengan Daerah Operasi Militer (DOM).
            Peraktek peraktek operasi yang dilakukan oleh TNI dan POLRI dari tahun ke tahun  seperti Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Bratayhuda (1967), Operasi Wibawa (1969), Operasi Militer di Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1981), Operasi Tumpas (1983-1984), Operasi Sapuh Bersih III (1985), Operasi Militer di Mapenduma (1996) dan Operasi-operasi lainnya yang terjadi di Tanah Papua Barat.
            Operasi Militer terus terjadi di seluruh pelosok Tanah Papua Barat, sehingga terkesan tiada waktu jedah bagi masyarakat Tanah Papua Barat untuk hidup dalam kondisi aman dan damai. Hal ini terbukti ketika Operasi Militer tersebut terus terjadi dari tahun ke tahun hingga kini di Tanah Papua Barat bagai air sungai mengalir tiada hentinya.
Kendali demikian, Negara Indonesia telah memberikan angin segar kepada seluruh masyarakat Nusantara di Indonesia ketika bergantinya Era Orde Lama (ORLA) dan Orde Baru (ORBA) pada tahun 1998 dan menjemput sebuah Era baru yaitu Era Reformasi. Era Reformasi adalah era di mana peluang untuk Era Berekspresi terbuka lebar bagi masyarakat nusantara. Namun demikian, di Indonesia hanyalah berubah istilah ‘Era’ sementara pola tindakan  militer tidak pernah berubah dari satu era ke era lainnya. Tindakan kekerasan militer yang sama dalam era Reformasi dan Otonomi Khusus (Otsus) dapat terlihat seperti Peristwa Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)  di Wasior (2001), Penculikan dan Pembunuhan Ketua PDP Theys Hiyo Eluay (2001), Wamena berdarah(2003), Puncak Jaya berdarah (2004), Penembahkan  Moses Douw di Waghete (2004), Pembunuhan Opinus Tabuni di Wamena (2009), Pembunuhan Melkias Agapa di Nabire (2010), pembunuhan Kelly Kwalik di Timika (2010), pembunuhan Dominikus Auwe dan Alwisius Waine di Dogiyai (2011), Penikaman terhadap Derek Adii oleh Anggota TNI Kodim 1705 di Nabire di pelabuhan Samabusa pada tanggal 14 Mei 2011 dan pembunuhan pembunuhan lainnya terhadap masyarakat Papua Barat oleh TNI dan POLRI.
Sebuah tindakan yang dilakukan oleh pihak TNI dan POLRI terhadap masyarakat Papua Barat selalu saja terjadi melalui Operasi Militer. Pertumpahan darah yang terus terjadi di Tanah Papua Barat adalah usaha mencapai target terselubung Negara Indonesia terhadap bangsa Papua Barat yaitu permusnahan Etnis Malanesia secara perlahan-lahan (Slow Motion Genocide of Malanesian).
Dari uraian di atas ini, maka dapat dikatakan bahwa karena tidak merasa kenyang dan puas dengan darah darah dari peristiwa di atas, maka kini ada sebuah tragedy lagi yang menambah buram luka Papua Barat yaitu Kasus Dogiyai Berdarah pada tanggal 13-14 April 2011 yang mengorbankan nyawa 2 orang yaitu Dominikus Auwe dan Allowisius Waine dan empat orang lainnya yang luka-luka (Otin Yobee, Albertus Pigai, Vince Yobee dan Matias Iyai). Kasus tersebut yang berawal dari perjudian TOGEL dan CEME ini merupakan sebuah alat Permusnahan Etnis Malanesia yang mana dengan sengaja diciptakan oleh pihak kepolisian karena pemilik pengusaha Togel adalah seorang anggota Polsek Moanemani atau Polres Nabire.
Menurut pandangan masyarakat Dogiyai, Peristiwa Dogiyai Berdarah pada tanggal 13-14 April 2011 ini merupakan lanjutan dari peristiwa-peristiwa yang sebelumnya telah terjadi di Dogiyai oleh TNI dan POLRI. Peristiwa-peristiwa Dogiyai berdarah sebelumnya yang terjadi di Dogiyai seperti peristiwa 1969 yang merenggut nyawa ratusan masyarakat Kamuu dan Mapiya yang tewas dalam peperangan. Peristiwa 1984 dan 1985 yang mengorbankan nyawa masyarakat Kamuu, Peristiwa 1987 kematian masal di kampong Digikebo dan Maatadi dengan jumlah ratusan orang (walu tak tau siapa pelakunya), peristiwa 1995 terjadi peristiwa pengisian masyarakat asli Dogiyai dalam garung Goni lalu di bawah lari entah ke mana, peristiwa Ilmu Hitam 2003-2004 mengorbankan harta dan kekayaan milik masyarakat asli Dogiyai serta manusianya, Peristiwa Munta Berak (Muntaber) 2007 mengorbankan 273 orang, kini setelah Kabupaten Dogiyai hadir di tengah-tengah masyarakat Kamuu dan Mapiya, hadir pula dengan segala macam cara dan alat permusnahan masyarakat asli Dogiyai secara khusus dan pada umumnya masyarakat papua barat. Cara dan alat permusnahan masyarakat Dogiyai yang hadir hingga pada memunculkan konflik, perang dan penjudian Togel, CEME, Gaplek, Joker dan Minuman Keras.
Seluruh masyarakat Dogiyai terus mengukir memori pahit di hati dan benak setiap insane, sehingga sampai kapanpun dan di manapun mereka pergi terus akan mengingat dan mewariskan cerita ini kepada anak-anaknya sekalipun tidak ada dokumen tertulis karena waktu peristiwa peristiwa terjadi pada umumnya masyarakat tidak tahu menulis.
Menyadari bahwa banyak peristiwa pahit yang terjadi di Dogiyai tetapi tidak ada masyarakat yang mendokumentasikan secara tertulis karena masyarakat Dogiyai tidak tahu menulis pada saat itu, sekalipun diwariskan secara lisan. Oleh karena itu, kami menyadari bahwa Peristiwa Dogiyai Berdarah 13-14 April 2011 harus didokumentasikan secara tertulis.

Sumber : Dogiyai Berdarah 2011, Halaman V-IV

No comments:

FOLLOW VIA FACEBOOK

HAK

"BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA"

RECENT POST