Latest News

Boudimi News

BOUDIMI NEWS
Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Wednesday, 22 February 2017

PUISI BERGEMA



#BERGEMA
========================
Gelap malam penuh kesunyian
Lamunan jauh menerawang angkasa
Membukakan pintu-pintu mimpi
Menyibakan tirai-tirai kegalauan jiwa


Bias keremangan memudarkan kasih
Memutar hati menguak arti ilusi
Memedarkan beribu warni cahaya
Membayang menjauh dari arah cita

Katak merengek ikut meresah
Menggugah hati kala gelisah


Air hujan menetes berduka
Membasah bumi ikut bersedih

Gema kegundahan kian bertalu
Gemercik air melantun irama nan merdu
Berhembus angin membelai lembut
Gemerisik suara daun menghibur


Membangkit menggugah kalbu

Meliuk menari rumput nan ayu
Melambai perlahan seolah mengajak
Melepas duka menjemput cinta


Merayu bernyanyi kerinduan
Menyongsong esok akan kebahagiaan




Friday, 26 August 2016

TANAHMU ADALAH MAMAMU




Di sana pulauku,
Pulau yang indah bagaikan Surga kedua.
Pulauku terbentuk bagaikan Burung Surga yaitu cendrawasih,
Nan hijau wajahnya dan menawan wajahnya dari Sorong ke Samarai.
Pendudukku berkulit hitam dan rambut keriting,
Senyuman manis yang selalu terhias diwajah kita,
Bagaikan cahaya bulan dimalam hari
Kilauan mutiara hitam disegala cuaca.

Alamnya pulauku begitu berlimpah mampu menghidupi dan menjamin suluruh dunia, Segala sesuatu tersedia di sana. 

Dialah Tanah perjanjian Allah Taman Eden Ke dua di mana dunia sedang mencari keberadaannya.

Maka semakin terkenal Papua hingga semakin menghilang pula Orang Asli Papua , seperti pernyataan yang di katakan oleh Badan Statistik Provinsi Papua waktu 2012 " Angka kelahiran di Papua sudah Menurun sedangkan angka Kematian Sedang bertambah naik hari ke hari "

Janganlah menunggu alammu dihabisi,
Janganlah menunggu Rasmu dimusnahkan

Tetapi selagi masih ada kesempatan itulah waktu untuk kau berjuang membela kebenaran ,
Sebab kebenaran ialah jalan satu-satunya menuju Surga.

Ras melayu tak mungkin datang untuk memerjuangkan kebenaran dan keadilan di negerimu maka perjuangkanlah hidupmu karena hidup adalah perjuangan yang harus di juangan sebagai tanggung jawabmu.

Sebab Allah Bangsa Papua menciptakan kami unik dan khas dengan suku bangsa lain maka bila kita berjuang sambil meminta kepada-NYA pasti IA akan mengabulkannya sebab itulah yang IA inginkan.

Salam Revolusi
Kita harus Mengakhiri......!!
FWP 100% Struggle till Finished




Wednesday, 17 August 2016

ALAM-KU TERINDAH


Penuilis.(Fhoto : Petrus Yatipai/KM)



Tuhan…Jagalah Alam-ku nan hijau ini,
Alam segar, dihiasi kicauan Burung pun beterbangan,
Ku memandang kekiri, terihat rawah-rawah yang elok.
Ku  memandang kekanan,
Sungainya pun yang sangat panjang,
Lautannya teduh penuh bersahabat.

Begitulah wajah alam-ku…
Sunguh..Indahnya Alamku Papua,
Yang kau beri kepada Bangsa Melanesia.

Ku memandang ke sana…
terbentang sejuta kaki Gunung, Tanjung, dan Pepohonan hijau,
Eloknya Sungai aliran butiran-butiran Emas Negeri,
Terdengar kicauan Burung memuji segala karya Allah.

Terima kasih…Sang Khalik-Ku….
Engkau ciptakan Alam indah tuk kami Bangsa Melanesia,
Tuntunlah selalu dalam setiap pijakan hidup,
Biarkan kami  berkicau bebas bersama,  Burung Cenderawasih di Angkasa.

Karya : Diana Kadepa
Papua, 17 Agustus 2016


Tuesday, 16 August 2016

SYAIR-KU UNTUK SANG REVOLUSIONER




Di Ufuk Timur Negeri tanpa senja, keanggunan eloknya alam terpampang rapih bagai sorga di dunia kayangan…

Tetesan air menetes lembut di dedaunan tanpa henti, memberikan kelegahan bagi mereka yang hidup tanpa mengenal senja…

Papua…, Papua…, itulah Negeri-ku, Negeri-mu dan Negeri Generasi Bangsa Kami…

Negeri yang hanya mengalirkan emas dan madu tuk senyum dan tawa Bangsa kami…

Itulah Sorga kami, Sorga tanpa jajahan dan perampokan serta kemunafikan…

Gemuruh ombak di bibir pantai yang elok, hanya turut memerdukan tiap alunan syair syukur atas kemurahan ILAHI yang kami kenal sebagai Sang KHALIK, Leluhur tanpa pusara…

Saat dunia harus berlalu, tetesan darah mengalir di Negeri kami yang sebelumnya indah dan elok…

Jeritan tangisan darah mengalir makin kencang dan deras, membuat kepanikan dan kegementaran, mengguncang jiwa tiap insan Bangsa kami…

Jutaan orang dan Negara merebut dan membelenggu hak Bangsa kami dengan nafsu dan bejat duniawi…

Rentetan tembakan menembusi tiap dedaunan, sampai menembus jantung manusia tak berdosa…

Gugur…, gugur…, gugur satu demi satu tanpa sebab, tanpa dosa…

Sehelai demi helai punah, sampai nyawa pun, seakan seharga helai rupiah dan harus lenyap dari warisan moyang ku dan moyang mu.

Inikah penjajah, yang seenaknya datang tanpa diundang untuk merompok warisan kami…?

Inikah perompok, yang seenaknya memenjarah dan membunuh kebangsaan kami, hanya tuk memenjarah warisan tanah moyang kami…?

Saat harus ditengok, Mahluk lain dengan wajah dan fisik beda, dengan aromah nafsu duniawi, datang dengan senjata dan kekuatan penuh tuk merampas kebebasan dan tanah warisan kami…

Parasnya dibuat elok seakan malaikat, namun hatinya lebih tajam dari duri, saat menembus luka yang deritanya sepanjang abad, musang berbulu domba…

Sorga ku dan surga mu dibuat Neraka tanpa udara…

Alam dihancurkan, hutan dibabat, burung-burung harus panik tuk menuju kepunahan…

Cenderawasih harus senyap, tanpa mengeluarkan ekspresi tarian dan siulan kemerdekan…

Saat ratusan ribu rakyat tak berdosa harus lenyap di ujung moncong senjata penjajah, Kau dengan gagah berani mengatakan, “Lawan Penjajah…!”

Puluhan tahun di hutan, walau nyamuk, hujan dan badai menghampiri mu…

Semuanya menjadi sahabat sejati mu, karena semangat dan patriotisme mu tanpa batas tuk Pembebasan Bangsa kami…

Hari ini, di saat syair ini harus ku bingkai, jejarian ku tak berdaya tuk menulis kata demi kata…

Genangan air mata, hanya menemani ku, membuat kekakuan untuk harus bersyair, walau lelah rasa hati ini…

Kau begitu cepat pergi ke rumah ILAHI, tanpa pamit pada ku dan generasi Bangsa kami…

Kau begitu cepat pergi tanpa pamit pada alam dan dedaunan serta burung-burung yang slalu menemani mu dalam perjanalan hidup mu, dan masih menunggu bayang mu sata terlintas…

Kau mengajarkan banyak hal, dan komitmen mu tuk berjuang demi Bangsa yang membutuhkan pembebasan dan secercah harapan, dari initimidasi dan jajahan yang panjang…

Hati ini tak mampu tuk merangkul kesakitan, gelisa dan tangis…

Hati ini ingin meneriakan kepedihan atas kepergian mu, wahai pahlawan Revolusioner kami…

Kau Tokoh Bangsa Kami, Tuan, Bapak, Orang Tua, Pak R. Uria J, kini kau pergi selamanya ke rumah TUHAN kami, TUHAN yang sudah mengijinkan mu tuk hidup di dunia ini, TUHAN yang sudah mengijinkan ku tuk harus hidup, TUHAN yang mengijinkan Generasi mu tuk harus melanjutkan hidup, TUHAN yang juga sudah menciptakan indahnya Negeri ku dan Negeri mu, tuk kemurahan-NYA, walau sedang dihancurkan oleh Penjajah…

Biarlah alunan syairku dan syair generasi-mu menemani kepergian mu menuju rumah TUHAN kami…

Segala masmur anak Negeri menemani perjalanan mu menuju dunia masa depan Bangsa Papua dan masa depan orang beriman, di kerajaan ILAHI kami…

Selamat jalan Tokoh Revolusioner Sejati kami.

Penyair: Anak-Mu, Marthen Goo (PIN: 5A72EFEE)
Di bawah Kolong Langit tanpa mentari

Sumber : Fb  #Marthen Ramelau Somu Goo

FOLLOW VIA FACEBOOK

HAK

"BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA"

RECENT POST